HUMANITY FOR PALESTINE

segalanya tentang palestin kita

ad

Sajak: Satu Penipuan Bernama Perdamaian



Aku masih ingat
Seluruh dunia terpaku
Menyaksikan satu perdamaian bersejarah
Antara dua bangsa berseteru
Kini mereka bersekutu
Untuk memecahkan masalah Al-Quds yang satu

Dijulanglah dua nama itu
Sebagai pahlawan-pahlawan perdamaian terbilang
Yang satu…
Dulu ketua gerombolan Irgun Zvai Leumi
Pembunuh Deir Yassin yang keparat itu
Yang satu lagi…
Mati terkapar ketika lintas hormat soldadu
Atas nama Islam beliau dihujani peluru

Sudah lama perjanjian Camp David itu
Pelarian masih menunggu
Perdamaian yang disambut dunia itu
Hairannya mereka masih di situ
Di khemah-khemah pelarian itu..

Setelah Camp David datang pula tawaran di Madrid
Kini bukan seorang Presiden yang masuk perangkap
Tetapi seluruh raja-raja Arab
Diumpan dengan kalimah ‘perdamaian’
Sehingga termeterailah satu persetujuan
Sekali lagi dunia meraikan kejayaan
Kononnya akan membawa keamanan
Pelarian tetap menunggu

Kata Israel…
Jangan sentuh soal pelarian..
Kita selesaikan masalah wilayah dulu
Peta dilakar di Oslo I, Oslo II, di Cairo, di Taba, di Sharm el-Sheikh I
… dan Sharm al-Syeikh II
Kali ini bukan seperti Camp David
Sekadar menamatkan permusuhan
Tetapi melepaskan tuntutan
Ke atas 77% kawasan
Yang dirampas oleh 181 setengah kurun lalu
Tak cukup dengan itu
Baitul Maqdis mereka yang tentu
Kerana telah diisytihar ibu negara yang satu
Dan abadi pula statusnya itu

Bagaimana pula dengan Al-Aqsa
Mereka bahagikan pula kepada dua lapisan
Apa-apa yang ada di atasnya milik Palestin
Yang selebihnya milik mereka
Ibarat sebuah binaan, hanya bumbung yang menjadi kepunyaan
Begitulah liciknya mereka
Mengabui rampasan dengan umpan perdamaian

Bangkitlah umat
Melaungkan intifadah
Sebagai jawapan kepada penjualan maruah dan wilayah
Kepada Zionis laknatuLlah
Mereka bentangkan pula ‘Pelan Damai’
Pelan menuju sebuah negara Palestin yang merdeka
Dan berdaulat..

Berdaulat tanpa Baitul Maqdis?
Berdaulat tanpa Al-Aqsa?
Berdaulat dan pelarian masih di situ?
Di khemah-khemah pelarian itu?
Seperti biasa jawapan-jawapan pada persoalan itu
Nanti kita akan selesaikan
Dengan syarat hentikan intifadah dulu

Dan pemimpin-pemimpin itu mengangguk-angguk
Memberi kepercayaan kepada
Sebuah penipuan
Yang bernama perdamaian
Ibarat memasuki lubang
… yang sama berulang-ulang.

Nukian:
Dr Hafidzi Mohd Noor
1 Jun 2006


Aqsa Syarif

kenali tokoh Palestin: Sheikh Abu Bakar Awawidah


Mewawancari seorang ‘alim-mujahid Palestina di tengah berkecamuknya Perang Gaza sungguh tidak mudah. Apalagi tokoh yang hendak diwawancarai adalah seorang yang pernah berkali-kali dipenjara dan disiksa oleh Israel, sampai buta total kedua matanya. Sampai sekarang, ia masih “mengantongi” vonis hukuman mati dari pengadilan militer Israel.


Majalah Suara Hidayatullah harus menyicil wawancara sampai tiga kali di tiga tempat berbeda, karena begitu padatnya kesibukan Syaikh Abu Bakar al-‘Awawidah (49). Namun, begitu wawancara sudah mengalir, suasana berubah menjadi sangat hangat dan penuh kekeluargaan. Pengawal dan asistennya yang setia menemani dengan senjata, juga ikut hanyut dalam suasana yang akrab dan bersahabat

Ditemui di beberapa lokasi di Damaskus, ibukota Republik Arab Suriah, Syaikh Abu Bakar berkali-kali meminta maaf karena wawancara harus terpotong-potong. Anggota Rabitatul ‘Ulama Filistin (Perhimpunan Ulama Palestina) ini harus bergerak terus untuk menjelaskan kepada masyarakat luas pentingnya berjihad harta untuk membantu Gaza.

“Waktu untuk keluarga saja sudah hampir tidak ada, apalagi untuk Anda,” katanya kepada Suara Hidayatullah sambil tersenyum.

Sejak 1992, bersama istri dan delapan anaknya, Syaikh Abu Bakar terpaksa hidup di Damaskus, 200 km dari Dora, Khalil-Hebron, kota kelahirannya yang juga tempat bersemayamnya jasad Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihis-salam.

Tubuhnya yang jangkung selalu menunduk, bicaranya lembut, murah senyum, dan ke mana-mana lengannya harus dituntun karena matanya buta akibat dipukuli dan disetrum serdadu Zionis selama 54 hari berturut-turut, pada 1981.

Namun begitu, gelapnya dunia di mata Abu Bakar sama sekali tak mengurangi keteguhannya memberi penerangan ruhiyah dan ilmiyah kepada rakyat Palestina yang terusir dan harus bermukim di Suriah, jumlahnya sekitar setengah juta orang.

Perjalanan hidup Syaikh Abu Bakar adalah simbol ketangguhan dan kesabaran bangsa Palestina menghadapi penindasan dan perampokan Zionis Israel.
Silakan menyimak wawancara wartawan Suara Hidayatullah, Muhammad ‘Isa di tengah musim dingin Suriah yang menggigit.

Dari sudut pandang seorang ulama Palestina di luar daerah pendudukan, apa yang Anda rasakan selama hari-hari penyerangan terhadap Gaza tempo hari?

(Syaikh Abu Bakar memulai jawabannya dengan bismillah, alhamdulillah, dan shalawat kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam (SAW)). Saya merasakan bahwa peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita di Gaza adalah akibat dari kelalaian umat Islam sedunia, termasuk para ulama, pemerintah Muslim, dan tentara Muslim di seluruh dunia..
Mereka mendiamkan embargo dan berbagai kejahatan terjadi atas Gaza dan Palestina, dan kemudian terjadilah penyerangan besar-besaran itu di depan mata mereka dan mereka tidak bisa berbut apa-apa.
Saya dan kawan-kawan di Rabithah Ulama Palestina akan terus menyerukan ajakan lewat pertemuan-pertemuan dalam bentuk apapun, agar tidak terjadi lagi apa yang telah terjadi di Gaza. Tidak ada jaminan bahwa ini tidak akan terjadi di tempat lain atas umat Islam.
Kezaliman seperti di Gaza terjadi juga di Somalia, Sudan, bahkan Myanmar.

Mengapa jihad di Palestina dianggap lebih penting daripada di negeri lain?

Kedudukan jihad di dalam syariat Islam, di manapun terjadinya, memiliki kemuliaan yang sama. Ketika umat Islam diserang dan dizalimi karena keimanannya, maka kaum Muslimin yang ada di tempat itu atau yang terdekat dari tempat itu wajib berjihad. Pahala yang dijanjikan Allah Subhanu wa Ta’ala (SWT) juga sama mulianya.
Namun, Palestina adalah tanah di mana semua konflik yang terjadi berakar dari perselisihan akidah, bukan karena yang lain. Hal ini dimaktubkan oleh Allah SWT di dalam al-Qur’an, juga di-nubuwwah-kan oleh Rasulullah SAW melalui Hadits-haditsnya.
Selain itu, sepanjang sejarah, al-Aqsha adalah barometer kemenangan umat Islam sedunia. Ini adalah masjid ketiga yang disucikan dan terminal penting peristiwa besar Isra’ dan Mi’raj, sebuah peristiwa yang diabadikan di dalam al-Qur’an dan berpengaruh besar atas akidah kita. Saya juga sedih setiap kali mendengar kaum Muslimin ditindas di Iraq, di Afghanistan, di Chechnya, di Kashmir, di Somalia, di Pattani, dan di Mindanao.
Namun, pada saat yang sama, berbagai peristiwa itu membuktikan bahwa umat ini sedang bangkit pelan-pelan melawan kebatilan. Semoga Allah SWT membimbing kita meniti tangga kemenangan lewat ketakwaan kita kepada Allah SWT. Tidak ada kemenangan tanpa ketaatan kepada Allah SWT.

Seandainya apa yang terjadi di Gaza menimpa bangsa Indonesia, belum tentu mereka sesabar Gaza. Apa yang telah diajarkan ulama Palestina sehingga lahir Gaza yang begitu tangguh?

Rahasianya, para ulama Gaza dan Palestina mengokohkan Masjid al-Aqsha sebagai bagian dari agama. Kalau Masjid al-Aqsha sampai dijajah musuh, maka umat Islam dalam keadaan terhina. Kalau umat Islam berhasil membebaskannya, maka ‘izzah (wibawa dan kemuliaan) umat Islam juga akan terangkat.
Nyawa adalah harta yang kami siapkan untuk membebaskan Masjid al-Aqsha. Ketika penjajahan atas Palestina dimulai tahun 1947, lalu diperluas tahun 1967, jutaan orang Palestina terus-menerus mengungsi meninggalkan Masjidil Aqsha dan Palestina. Waktu itu kami berjuang atas nama kebangsaan atau ke-Arab-an kami.
Alhamdulillah, sejak Intifadhah pertama, 21 tahun yang lalu, kami berjuang atas nama Islam, jihad fii sabiilillah, semata-mata mencari ridha Allah SWT, tak peduli apakah kami tetap hidup atau mati.
Sejak itu, tidak pernah tercatat ada orang Palestina yang kabur dari Palestina. Justru sekarang ribuan orang mengantri di Rafah untuk masuk ke Gaza, padahal mereka tahu masuk ke Gaza berarti masuk ke dalam lubang kematian.
Begitu banyak ulama, ustadz, dan murabbi di Indonesia, tapi kekuatan aqidah yang seperti itu belum terlihat. Belakangan malah ada kecenderungan berkompromi pada hal-hal yang syubhat, bahkan haram.

Apa yang bisa diserukan oleh para ulama Palestina kepada para ulama Indonesia untuk diajarkan kepada umatnya?

Sebenarnya, tarbiyah yang diajarkan sama-sama bersumber dari al-Qur`an dan as-Sunnah, namun ada titik perbedaan yang signifikan, yaitu keberkahan. Allah SWT hanya akan menurunkan keberkahan kepada suatu bangsa kalau bangsa itu hidup dengan al-Qur`an.
Al-Qur`an harus menjadi bacaan yang dicintai oleh semua orang dari taman kanak-kanak sampai para pejabat pemerintahan. Bukan saja mempelajarinya harus menjadi kegiatan terpenting, tetapi semua orang harus bergegas menghidupkannya dalam kegiatan sehari-hari.

Ibu-ibu mengurus rumah dengan al-Qur`an. Anak-anak sibuk menghafal al-Qur`an. Pedagang berbisnis dengan cara al-Qur`an. Pejabat melayani masyarakat dengan akhlaq al-Qur`an. Polisi menjaga keamanan dan ketertiban dengan ketaatan kepada al-Qur`an.

Bagaimana ulama Palestina membangun kekuatan al-Qur`an itu di Gaza?

Kami mulai dari yang sederhana. Diusahakan di setiap rumah di Gaza harus ada minimal satu orang anak yang menghafal al-Qur`an. Jika ada satu rumah yang tidak ada satu orang pun yang menghafal al-Qur`an akan menjadi aib.
Dengan begini, otomatis, orangtuanya akan mendorong semua anaknya menghafal al-Qur`an. Bahkan orangtuanya sendiri juga mulai menghafal al-Qur`an.
Lalu di setiap masjid harus selalu ada daurah al-Qur`an, yang memberikan pemahaman yang benar mengenai isi al-Qur`an yang hebat itu.
Tahun lalu, para ulama mengadakan daurah al-Qur`an selama liburan musim panas dua bulan. Hasilnya, di akhir daurah itu diwisuda 5.000 orang hufazh al-Qur’an. Mudah-mudahan tahun ini juga bisa dilaksanakan.

Di Indonesia juga ada banyak ulama dan pesantren yang menghasilkan hufazh al-Qur’an, tetapi mengapa belum terasa ketangguhan generasi baru seperti di Gaza?

Di atas semua itu, yang paling penting, para ulamanya jangan hanya menceramahkan al-Qur`an. Tumpahkan darah kalian untuk al-Qur`an. Jangan berkompromi kepada kemaksiatan dan kemusyrikan. Jangan berkompromi pada kejahatan yang diarahkan musuh-musuh kepada umat yang Anda bimbing. Hanya dengan darah ulama keberkahan akan diturunkan Allah SWT.
Kami merasakan sendiri, bagaimana keberkahan perjuangan umat Islam di Palestina bertambah-tambah justru sesudah tertumpahnya darah Syaikh Ahmad Yasin, dr Abdul Aziz ar-Rantissi, begitu juga Dr Abdullah Azzam di Afghanistan. Termasuk dua ulama dan pemimpin kami di Gaza yang kemarin syahid, Sayyid Siyam dan Nizar Rayyan (Menteri Dalam Negeri Palestina di Gaza dan salah satu ulama dan Panglima Hamas).
Mereka tidak cuma membicarakan al-Qur`an, mereka mengorbankan darah mereka agar umat yang dibimbingnya bisa hidup dan mati selamat dengan al-Qur`an.

Di Indonesia, musuh yang secara terang-terangan menyerang umat Islam dengan senjata 
belum ada lagi. Mungkinkah ulama Palestina mengundang ulama Indonesia untuk menyaksikan langsung perjuangan di Gaza?

Undangan atau ajakan terbuka jangan hanya untuk ulama Indonesia, tetapi untuk semua unsur bangsa Indonesia. Para ulama Indonesia wajib mendatangi para pengambil keputusan di semua tingkat pemerintahan dan masyarakat. Beritahukan mereka bahwa terjadi kezaliman besar di Palestina, dan ini sudah berlangsung 60 tahun.
Apa yang terjadi di sini sama persis, dan bahkan lebih parah lagi, dari apa yang pernah dialami bangsa Indonesia selama 350 tahun. Tanah bangsa Indonesia dirampok dan dikuasai Belanda.
Seluruh tanah yang sekarang diakui sebagai negara Israel adalah tanah Palestina. Tanah orang Palestina dirampok. Para ulama kami dibunuhi dan disiksa di berbagai penjara.
Kebun-kebun kami dirusak. Pemuda-pemuda kami diculik dan dipenjara tanpa proses hukum. Lalu Israel mengumumkan kepada dunia bahwa orang Palestina adalah pengganggu keamanan negerinya.
Mereka sedang berusaha menghapus kejahatan mereka. Seakan-akan yang terjadi adalah konflik antara dua bangsa yang bertetangga, Israel dan Palestina.
Bukan! Ini bukan konflik dua bangsa yang bertangga. Ini adalah perampokan. Tanah dan rumah kami dirampok. Lalu perampoknya mengajak berdamai, dan menyuruh kami hidup di salah satu sudut tanah yang sempit bernama Gaza dan Tepi Barat. Sedangkan mereka ingin berkuasa atas seluruh tanah, air, laut, dan udara Palestina.

Apakah Indonesia mau menerima diperlakukan begitu oleh Belanda? Demi Allah, dan demi kemuliaan Islam dan kaum Muslimin, kami juga tidak akan pernah menerima perlakuan seperti ini.
Hamas masuk sistem demokrasi dan ikut pemilu. Di Indonesia, masyarakat menyaksikan gerakan dakwah yang ikut pemilu banyak melakukan kompromi yang bersifat syubhat. Bagaimana Hamas menjaga agar tidak terjadi seperti ini di kalangan para kadernya yang terlibat demokrasi?
Tidak ada kata cukup untuk tarbiyah. Sebelum masuk parlemen kami mematangkan diri dengan 40 tahun tarbiyah di bidang dakwah dan tanzim dengan hanya berasaskan al-Qur`an dan as-Sunnah.
Bagi sebuah kekuatan tarbiyah yang sudah mengakar, kemenangan pemilu itu bukan barang istimewa. Itu mudah, dengan izin Allah SWT, dan jika memang diperlukan diambil.
Tapi, kemenangan pemilu bukan kemenangan sesungguhnya. Karena itu, kemenangan pemilu tidak boleh menjadi tujuan yang menghalalkan segala yang syubhat apalagi haram.
Misalnya, kami tidak pernah berkompromi mengenai tujuan Hamas untuk mengajak seluruh bangsa Palestina hidup mulia dengan syariat Islam, atau mati Syahid karena membela Islam. Ini harga mati.
Tidak mungkin kami berkompromi untuk menang pemilu dengan mengatakan, bahwa tujuan kami adalah membangun sebuah negara Arab Palestina yang sekular.
Kalau itu kami lakukan, perjuangan kami menjadi nisbi. Seperti debu yang langsung hilang begitu tertiup angin. Kelihatannya besar, padahal keropos di akar-akarnya. Kami bisa jadi banci.
Tarbiyah yang benar melahirkan para laki-laki sejati, yang ciri utamanya tidak akan berkompromi sejengkal pun bila sudah menyangkut syariat Islam. Apapun risikonya.
Dia boleh bekerja di bidang apapun, militer, media, parlemen, semua bergerak bersama tampil sebagai lelaki mukmin. Yang halal dikatakan halal. Yang haram dikatakan haram. Hanya dengan cara itu Allah SWT akan membantu.

Meskipun demonstrasi besar untuk mendukung Palestina sering terjadi di Indonesia, namun dukungan keuangan maupun politik belum seberapa. Apa usul Anda untuk meningkatkan dukungan itu?

Kami selalu berbesar hati melihat kecintaan rakyat Indonesia yang turun ke jalan membela Palestina. Mungkin yang perlu ditingkatkan adalah pendekatan kepada media massa. Kalau lewat media massa bisa kita sebarluaskan informasi yang benar bahwa masalah Palestina adalah masalah akidah, bukan politik dan militer semata, maka akan sangat baik sekali.
Jadi lemahnya dukungan bangsa Indonesia kepada perjuangan membebaskan Masjidil Aqsha dan Palestina menunjukkan lemahnya ke-Islam-an mereka?
Saya tidak mengatakan agama umat Islam di Indonesia itu lemah. Yang terpenting bagaimana bangsa Indonesia semakin faham akan kebaikan-kebaikan al-Islam, sehingga tertarik hidup dan mati di atasnya.
Jika itu terus kita lakukan dengan segala cara, insya Allah akan banyak masalah bangsa Indonesia yang akan teratasi dengan sendirinya.

Tadi Anda katakan, sejak Intifadhah 1987 lebih banyak orang yang kembali masuk ke dalam Palestina, khususnya Gaza. Dalam situasi ekonomi yang berat, apakah para pendatang itu menjadi beban atau justru meringankan kesusahan rakyat Gaza?

Rasulullah SAW sudah mengingatkan kita, “Bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian, 
tetapi hubbud-dunya wa karahiyatul maut (cinta kepada dunia dan benci kepada mati). Maka berlomba-lomba mendapatkan kekayaan dunia itu akan membinasakan kalian.”Berapapun banyaknya orang datang ke Gaza, tidak akan membuat kita khawatir karena dua hal. Pertama, orang yang berani datang ke Gaza di saat negeri itu sedang dizalimi hanyalah orang yang benar-benar memahami masalah dan datang untuk membantu.
Kedua, sedangkan rakyat Gaza yang memang sudah berada di sana, mereka sudah begitu tangguh ditempa berbagai kesusahan dan kezaliman. Mereka makan apa yang mereka tanam, dan pakai apa yang mereka jahit. Yang terpenting, jari telunjuk mereka selalu terangkat ke atas (menunjukkan keyakinan dan prasangka baik kepada Allah Ta’ala). Jalan ke surga memang susah, dan rakyat Gaza yang ikhlas ada di depan kita beberapa langkah (tersenyum).

Jadi kalau ada bantuan untuk Gaza, akan diprioritaskan untuk apa?

Penting untuk kita catat bersama-sama, yang memenangkan perjuangan ini adalah ridha Allah SWT, bukan uang yang datang. Sedangkan ridha Allah SWT hanya turun karena ruhul ibadah dan ruhul jihad kita yang suci.
Jadi bagi kami, yang terpenting adalah, bagaimana mengubah semua dana bantuan yang datang menjadi pendorong semakin tingginya kualitas ruhul ibadah dan ruhul jihad. Itu prioritas.
Tidak boleh ada dana bantuan yang menyebabkan rusaknya ruhul ibadah dan ruhul jihad. Karena itu, kami tak pernah mempermasalahkan besar kecilnya bantuan. Meskipun bantuan dari rakyat Indonesia tidak sebesar dari saudara-saudara negeri lain, yang kami tunggu adalah keberkahan Allah SWT yang turun karena keikhlasan kalian (tersenyum). Dana yang datang ke Gaza diprioritaskan untuk membeli senjata, pendidikan, dan pelayanan kesehatan.

Langkah besar apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan di Gaza?

Sebagaimana dinyatakan oleh saudara kita, Khalid Misy’al (Kepala Biro Politik Hamas),
perjanjian apapun yang tidak menyentuh soal dibukanya semua pintu perbatasan ke Gaza, pembebasan semua tahanan Palestina di penjara Israel, serta hak pulang rakyat Palestina ke tanah Palestina yang terjamin, akan kami tolak.
Jika perbatasan Gaza-Rafah dibuka saja, akan sangat meringankan beban rakyat Gaza. Waktu tahun lalu dinding pemisah dihancurkan rakyat, tidak satu pun dari mereka kemudian menetap di Mesir. Mereka hanya menyeberang sebentar membeli berbagai keperluan harian, lalu kembali ke Gaza. Meskipun menderita, mereka akan tetap menjaga ‘izzah-nya dengan tinggal di Gaza.
Secara ekonomi, kami sedang memulai Ekonomi Perlawanan (Iqtishadul Muqawwamah), di mana di setiap rumah di Gaza harus ada sedikit banyak barang yang dihasilkan untuk bisa dijual. Seberapapun kecil. Sebisa mungkin para pemimpin membantu permodalannya.

Ada kalangan yang menilai Hamas terlalu dekat bergaul dengan Iran dan Hizbullah yang Syi’ah. Kata mereka, “Tidak akan berhasil perjuangan mereka yang berteman dengan kaum yang mencela para sahabat dan isteri Rasulullah SAW (syi’ah).” Bagaimana Anda menjawab hal ini?

Orang Iran dan Hizbullah itu sudah tahu bahwa Hamas itu Sunni. Hamas juga menjaga
hubungan baik dengan semua pihak selama mereka tidak mengganggu perjuangan Islam, sebagaimana Rasulullah SAW juga melakukannya.
Sebelum Khalid Misy’al berkunjung ke Iran, dia juga sudah menemui para pemimpin Syria, Qatar, Sudan, dan Turki, baru setelahnya ke Iran. Kelima negara ini merupakan yang paling jelas dukungannya kepada perjuangan rakyat Palestina. Kunjungan tersebut untuk menyampaikan terima kasih atas dukungan mereka selama ini, terutama saat terjadi pembantaian di Gaza.
Tolong sampaikan kepada saudara-saudara kita di Indonesia, tidak ada seorang pun yang syi’ah di Hamas. Semua Sunni.

Karena Hamas sedang sangat populer, boleh jadi ada orang yang menganggap kedekatan Hamas dengan Iran dan Hizbullah bisa mengaburkan problem akidah Syi’ah di mata awam?

Hamas menjalin kerja sama secara politik dengan pihak manapun, namun tidak ada satupun pihak yang dibiarkan mendominasi pengambilan keputusan di dalam Hamas. Tidak ada kerja sama secara akidah dengan Iran dan Hizbullah.
Venezuela dan Bolivia yang bukan negara Islam saja sangat mendukung perjuangan rakyat Palestina. Jadi, wajar sajalah kalau kami mengucapkan terima kasih kepada mereka, termasuk kepada Iran.
Komitmen Hamas, akidah dan syariat Islam yang sedang ditegakkan di Palestina, adalah Ahlus-Sunnah wal Jama’ah, yang tentu saja mengikuti manhaj Rasulullah SAW dan para Salafush Shalih.***SUARA HIDAYATULLAH, MARET 2009
Box

Buta tapi Selalu Bersyukur

Syaikh Abu Bakar memiliki 15 saudara dari dua orang ibu. Dari jumlah saudara itu, yang bersaudara seibu dengannya 6 laki-laki dan 4 perempuan.
Setamat SMA di Dora, ia melanjutkan belajar di Ma’had Syari’ah al-Quds untuk persiapan sebagai imam dan khatib tahun 1979. Pada masa itulah, ia berkenalan dengan gerakan dakwah Al-Ikhwanul Muslimun.
Bersama kolega belajarnya dan para ustadz di ma’had itu, mereka mempersiapkan diri berjihad di jalan Allah SWT merebut kembali tanah-tanah Palestina yang dirampas Zionis Israel. Keinginan mereka ditolak oleh faksi perjuangan Marxis dan sekular yang waktu itu menguasai sebagian besar struktur Palestinian Liberation Organization (PLO) yang dipimpin Yasser Arafat.
Sambil terus belajar di ma’had itu, Abu Bakar mengikuti kuliah musim panas di Universitas Beirut jurusan filsafat dan sosiologi. Abu Bakar semakin aktif dalam kegiatan tarbiyah (pendidikan Islam) baik untuk dirinya sendiri, maupun membina pemuda-pemuda Palestina lewat daurah (kursus) al-Qur’an di masjid-masjid, ma’had-ma’had dan sekolah-sekolah.
Kegiatan-kegiatan itu dilakoninya sepanjang sepuluh tahun berikutnya. Berkali-kali pula ia harus keluar masuk penjara dan disiksa oleh Zionis Israel akibat kegiatannya itu.
Pada tahun 1981, misalnya, ia dipenjara dan disiksa selama 54 hari. Begitu juga tahun 1982 ia dipenjara selama 5 bulan. Tahun 1983 selama 15 hari, tahun 1988 selama 6 bulan, tahun 1990 ia ditangkap dua kali: pertama 37 hari, kedua 14 hari, dan tahun 1991 ia mendekam di penjara selama 5 bulan.
Belum lagi, di luar itu ia berkali-kali ditangkap dan disiksa oleh Israel selama beberapa jam.
Puncaknya pada tahun 1992, Syaikh Abu Bakar Al-’Awawidah ditangkap dan diusir ke Marj Az-Zuhur, daerah perbatasan antara Palestina dan Lebanon, bersama 414 orang mujahidin Palestina lainnya, di antara asy-Syahid dr Abdul Aziz Al-Rantissi.
Di tanah tak bertuan itu, mereka dipaksa kerja fisik siang malam di kawasan yang hampir selalu bersalju selama setahun. Sesudah setahun, yang dibolehkan kembali ke Palestina hanya 401 orang. Sedangkan 13 orang lainnya diusir ke berbagai negara, termasuk dirinya ke Suriah.
“Jika kami nekat masuk Palestina, mereka mengancam akan langsung membunuh kami,” tutur Abu Bakar.
Penangkapan yang pertama kali dialami Syaikh Abu Bakar Al-’Awawidah adalah yang paling fatal (1981). Selama 54 hari, ia tanpa henti disiksa dengan keras, tanpa proses pengadilan. Tubuhnya digebuki habis-habisan oleh empat atau lima orang serdadu Zionis sekaligus. Sasaran utama kepala dan alat vital.
“Sakitnya berlipat-lipat jika kita dipukul dan ditendang sambil tangan diikat ke belakang dan kepala saya ditutup dengan kantong plastik,” kenangnya.
“Sebagai manusia, saya hanya bisa bersabar waktu itu.”
Akibat dipukuli dengan balok kayu dan disetrum terus-menerus, kedua penglihatannya meredup dan lama kelamaan buta sama sekali, sampai sekarang.
Begitu juga punggungnya berkali-kali mengalami patah. Akibatnya, jika duduk di lantai atau karpet, Abu Bakar selalu harus mengubah posisinya beberapa kali karena menahan sakit.
Selain dipukuli, waktu itu ia baru berusia 21 tahun, jenggotnya dicabuti lalu disumpalkan ke mulutnya, dan dipaksa untuk menelannya.
“Waktu itu saya disiksa berempat dengan kawan saya, ditambah salah seorang ustadz di Ma’had Al-Quds,” kenang Abu Bakar.
Di waktu yang lain, tangannya diikat di belakang dan dipaksa berdiri terus menerus selama 7 jam. Abu Bakar merasa seluruh persendian dan kulitnya mati rasa, sampai-sampai ketika kencing di celana pun tak bisa dirasakan lagi.
Ia juga pernah dipenjara di ruang isolasi selama 25 hari tanpa cahaya sama sekali, hanya ada celah udara sedikit. Selama itu dia melakukan shalat tanpa berwudhu, hanya tayamum. Kalau tangan diikat, maka shalat pun dilakukan dengan berdiri.
Namun Abu Bakar bersyukur kepada Allah SWT atas pengalamannya dipenjara oleh Zionis Israel berkali-kali. Bersyukur? Betapa tidak, di penjara-penjara itulah justru ia menambah banyak ilmu karena koleksi bukunya yang lengkap.
Selain itu, ia juga berbulan-bulan ‘dipaksa’ tinggal dengan para ulama besar Palestina, di antara Asy-Syahid Syaikh Ahmad Yasin.
“Sebelum buta, saya hanya menghafal 4 juz al-Qur’an, sesudah dibikin buta oleh Israel saya malah bisa menghafal 20 juz,” katanya sambil tersenyum. ***SUARA HIDAYATULLAH, MARET 2009

source: http://majalah.hidayatullah.com/?p=168

The Same Mistake

Sejarah, terbukti berulang dan berulang. Israel takkan pernah berhenti dalam kebobrokannya terhadap Palestin, dan sesiapa jua yang menyokongnya- termasuklah kita!

Sudah terlalu kerap, apa yang kita saksikan kini (tindakan Israel terhadap Pejuang Kebenaran) berlaku ketika dahulu. Namun, persis kerapnya berlaku peristiwa seperti ini, sebegitu kerap jualah kita melakukan kesalahan yang sama.

Ya, kita silap ulang dan berulang-ulang kali.

Isu Israel-Palestin, bukan isu bermusim. Sejak dahulu lagi, ia adalah tentang suatu Prinsip yang sifatnya Kekal, bukan sekadar Emosi yang seringkali Turun-Naik.

Kecelakaan Israel, takkan pernah terhenti dengan sekadar kita membawa akhbar-akhbar berita. Palestin, takkan pernah terbebaskan jika kita hanya mampu teresak-esak.

Lalu kita harus sedar, hanya Prinsip yang kan membawa pada Tindakan.

Di saat Freedom Flotilla berlepas, mereka berlepas dengan suatu Tindakan. Lantas kita mahu melihat kembali diri kita;

Apa Tindakan Kita Untuk Palestin?

*

Sesungguhnya Palestin membutuhkan Tangan-Tangan Kita.

Qum!

Palestin, Usrah, dan Ingatkah Lagi?

"Hamas muncul dari usrah-usrah dan majlis-majlis tarbiyyah yang berlangsung dalam waktu yang lama setelah melakukan upaya terus-menerus dan kerja secara berterusan siang dan malam, melalui aktivitas dakwah dan kemasyarakatan, hingga sampai ke kerja jihad dan merupakan inovasi gerakan di dalamnya dan memberikan pelajaran yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada musuh."
Pengakuan Pemimpin Gerakan Perlawanan Islam HAMAS, Musa Sammak membuktikan bahawa sistem tarbiyyah itu fokus, sistem tarbiyyah itu core business kita dalam menggerakkan isu Palestin.

Sudah cukuplah HAMAS, sebagai bukti keberkesanan nizhomul usroh yang kita cuba terapkan dalam perjuangan Palestin kita.

Buat adik-adik pewaris, ingat ini core business kita!

atau sudahkah kita lupa tentang tanah air kita itu?

BADAR: Suatu Ketetapan dan Keyakinan


Dan hujan rahmat turun renyai-renyai di bumi Allah itu.

Butir-butir manik hujan itu mengusir segala keraguan, menghapus semua resah.

Semarak jihad semakin membara-bara di dada ahli-ahli Badar.

Yakin akan tertegaknya panji-panji Ilahi di muka bumi itu.

“Ingatlah ketika kamu dilitupi oleh perasaan mengantuk sebagai satu pemberian aman daripadaNya, dan ingatlah ketika Dia menurunkan kepada kamu hujan dari langit untuk menyucikanmu dengannya dan menghapuskan darimu gangguan dari syaitan dan jua untuk menguatkan hati kamu dan menetapkan dengannya tapak pendirian kamu.”

(Anfal 8:11)

Dalam lena kaum muslimin di malam 17 Ramadan yang hening itu, Baginda SAW menunjuk ke arah medan pertempuran Badar seraya berkata;

“Inilah tempat kematian kaum musyrikin esok hari, InshaAllah.”

Semarak Api Peperangan

Akhirnya Ghazwatul Badar yang tak dijangka-jangka itu tercetus jua.

3 orang pahlawan Allah, Ubaidah al-Harith, Hamzah asadullah dan Ali diarahkan Baginda SAW untuk mara ke hadapan untuk menyahut cabaran pertempuran dengan pemimpin-pemimpin Quraisy.

Dengan izinNya, kesombongan kaum Quraisy itu langsung ditundukkan dengan tersungkurnya satu demi satu pemimpin Quraisy hingga menyembah tanah oleh pukulan-pukulan kencang pahlawan-pahlawan Allah itu.

Kemarahan kaum musyrikin tak terbendung lagi.

Mereka terus meluru ke arah tentera Islam.

Kaum muslimin pula bertindak mempertahankan diri sehingga kaum musyrikin mengalami kekalahan yang besar.

“Ahad…Ahad…” meniti bibir tentera-tentera Allah setiap kali mereka berjaya menundukkan kesombongan yang nyata ditunjukkan oleh kaum musyrikin.

Munajat Rasulullah SAW


Saff-saff perjuangan tentera Allah dikemaskan. Lantas Baginda SAW terus-terusan bermunajat kepadaNya;

“Ya Allah Ya Tuhanku. Perkenankanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah Ya Tuhanku, Perkenankanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.”

Peperangan semakin memuncak. Detik-detik penentuan hampir tiba.

“Ya Allah Ya Tuhanku. Seandainya Engkau binasakan pasukan kecil ini, maka Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini selepas ini untuk selama-lamanya.”

Rasulullah memanjatkan lagi doa kepadaNya. Sungguh-sungguh baginda dalam doanya sehinggakan terjatuh kain serban dari bahunya.

Lalu Abu Bakar yang melihat meletakkan kembali serban tersebut di bahu Rasulullah SAW seraya berkata;

“Cukuplah wahai Rasulullah SAW akan permintaan mu kepada Tuhanmu itu.”

Dan pada detik itu, saat kemenangan semakin terasa. Wahyu yang menjanjikan bantuan dan ketetapan dari Allah diturunkan kepada RasulNya SAW;

“Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankanNya bagimu. “Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
(Anfal 8:9)

Nabi Muhammad SAW lalu berkata kepada Abu Bakar sambil memakai baju besi;

“Terimalah berita yang menggembirakan wahai Abu Bakar. Pertolongan Allah telah melewati engkau. Itu dia Jibrail yang memegang kekang kudanya, memecutnya ke hadapan merentas debu-debu yang berterbangan.”

Baginda pun langsung membacakan ayat Allah;

“Kumpulan mereka yang bersatu itu tetap akan dikalahkan dan mereka pula akan berpaling lari.”
(Qamar 54:45)

Digenggam pula di tangannya pasir lalu dilontarkannya pasir itu ke arah kaum Quraisyh seraya berkata;

“Musnahlah kalian semua.”

Fath

“Demi Tuhan yang jiwa aku di tanganNya tak seorang pun yang memerangi mereka itu, yang penuh dengan kesabaran, perkiraan dengan Allah dan tidak lari, kemudian mati syahid kecuali dimasukkan oleh Allah ke dalam syurgaNya.”

“Ayuh, perolehilah syurga yang keluasannya seluas petala langit dan bumi.”

“Akan kalah semua kelompok itu dan akan beredar lari.”

Kata-kata semangat marak ditiupkan sambil baginda Muhammad SAW memacu kaum muslimin ke hadapan memburu kemenangan dan syahid.

Hinggakan lari Iblis mencampakkan dirinya ke dalam laut.

Hingga tamat riwayat Abu Jahal yang disifatkan oleh baginda SAW sebagai Firaun umat ini.

Hingga akhirnya kemenangan itu menjadi milik umat Islam, hanya dengan izin Allah SWT.

*****

Maka Badar itu mengajar kita agar tetap dengan pendirian kita (Islam).

Kita yaqin bahawa Allah itu berada di atas yang Haq (benar) dan akan memenangkannya.

Dan Badar juga mengajar kita bahawa keyaqinan kita pada ketetapanNya adalah mengatasi segala-galanya, segala apa yang ada di langit dan di bumi.

Membuatkan kita yaqin bahawa bumi Palestin itu akan kembali menjadi milik kita.

“Akan sentiasa ada segolongan dari umatku, yang menegakkan kebenaran. Mereka tidak akan tergugat oleh sesiapa pun yang menentang mereka, sehinggalah datang hari kiamat dan mereka tetap di dalam keadaan mereka”
(Rawahu Muslim)

Rebutlah Peluang Ramadhan Bersama Ulama Palestin 10-15 Sept 09



Assalamualaikum.

Semuga Kalian di dalam Rahmat dan Perlindungan Allah.
Semuga Ramadhan kali ini lebih baik daripada Ramadhan yang lepas.

Sekadar menyampaikan program terdekat:

RAMADHAN BERSAMA ULAMAK PALESTIN
10hb September - 16hb September 2009

Sempena kunjungan Muhibbah 3 Tokoh Rabitah Ulamak Palestin (Ikatan Ulamak Palestin)
ke Malaysia. Pihak HALUAN Palestin dengan kerjasama JAKIM, JAIS dan lain-lain
akan mengadakan Program-program Perkongsian Penglaman dan Tazkirah di beberapa buah
Masjid dan Surau yang terpilih (kerana kesuntukan masa).

MAKLUMAT LANJUT DI DALAM LAMAN WEB

Saudara/i dijemput untuk hadir.

Sedikit Synopsis TOKOH:

1. Sheikh Hussein Khalil Saqar al-Awawidah (Sh Abu Bakr)
  • Penasihat Kanan Rabithah Ulama Palestin
  • (Seangkatan dengan Sh Ahmad Yassin, Abd Aziz al-Rantisi; pernah dipenjara lebih daripada 10 kali dan disiksa oleh Zionist sehingga buta matanya)
2. Sheikh Ziad Said al-Kishawi (Sh Abu Ahmad)
  • Koordinator Bantuan Kemanusiaan Rabithah Ulama Palestin
  • (Berpengalaman berjuang pembebasan Palestin & Baitul Maqdis lebih daripada 40 tahun...)
3. Sheikh Ahmed Aboushousha (Sh Abu Wael)
  • Ketua Koordinator Sosial, Perkhemahan Pelarian Khan Danun
  • (Di antara rakyat Palestin yang awal dihalau keluar daripada Palestin oleh Zionist...)

MARILAH KITA MENDENGAR TAZKIRAH & PENGALAMAN MEREKA YANG TELAH
TERBUKTI IKHLAS & SABAR DI DALAM PERJUANGAN ISLAM...

Moga Ramadhan ini menjadi lebih bermakna dengan bantuan kita kepada
PERJUANGAN BAITUL MAQDIS...

Noorazman Mohd Samsuddin
Pengerusi HALUAN Palestin
019 388 6956



Sabtu, 12 September 2009

  • Masjid Darul Ehsan, SS15 Subang Jaya - Kuliah Subuh
  • Masjid Bandar Baru Sg Buloh - Kuliah Dhuha
  • Surau As Siddiqin, Bandar Tasik Puteri, Rawang - Berbuka Puasa
  • Masjid Kg Tunku, SS1 Petaling Jaya - Tarawih
  • Surau Al Ikhwan, Saujana Putra, Rawang - Tarawih

Ahad, 13 September 2009

  • Masjid Negeri Shah Alam - Kuliah Subuh
  • Masjid Sayyidina Umar, Bukit Damansara - Kuliah Subuh
  • Masjid Jamek Sultan Abdul Aziz Shah, Jalan Templer, Petaling Jaya - Kuliah Dhuha
  • Pejabat HALUAN Palestin, Subang - 2:30 – 4:30 petang (Sesi bersama wakil-wakil NGO sahaja)
  • Masjid An Naim, Jalan Kebun, Klang - 4:40 petang – Iftar Perdana
  • Masjid Mukminun USJ - Tarawih
  • Masjid Amaniyyah, Batu Caves - Tarawih

Isnin, 14 September 2009

  • Balai Islam, Tenaga Nasional Berhad, Bangsar - Kuliah Zuhur
  • Surau Seksyen 8, Shah Alam - Berbuka Puasa & Tarawih
  • Masjid Mukhlisin, Jalan Damai Bakti, Alam Damai, Cheras - Tarawih

Selasa, 15 September 2009

  • Surau Jalan 7 Bukit Rahman Putra - Berbuka Puasa & Tarawih
  • Masjid Sultan Azlan Shah, Ipoh - Berbuka Puasa & Tarawih
http://haluanpalestin.haluan.org.my/files/ramadhanpalestin.pdf

21 OGOS



Genap 40 tahun lampau, Masjid al-Aqsa dibakar Michael Dennis Rohan. Sengaja pada hari itu pasukan tentera Israel menutup saluran paip air menuju ke sana agar agenda pembakaran berjalan lancar. Malah, pasukan bomba dan warga Arab dihalang untuk memasuki masjid suci yang ketiga di hati umat Islam itu. Walhasil, mahkamah yang didalangi Zionis melakukan sandiwara lucu apabila Michael Rohan yang merupakan seorang doktor telah dibebaskan atas alasan dia gila. OIC pula ditubuhkan sebagai reaksi kepada peristiwa hitam itu. Pelbagai resolusi terus dikeluarkan namun ia hanya tinggal di atas kertas. Sudah tentu, apa guna menubuhkan persatuan yang mengumpulkan angka-angka kosong?

Hari ini, HAMAS makin mendapat tempat di hati majoriti penduduk Bumi. Perjuangan mereka bukan karena reaksi atas peristiwa semata, tapi menjalar ke akar umbi. Semuanya karena la ilah illa Allah. Lalu, sistem yang tersusun dan berterusan dibina. Di mata dunia, mereka bermula dengan kelab sukan. Padahal, HAMAS menjadi bukti kepada keberkesanan sistem usrah.

Sama seperti HAMAS yang mulanya tidak dikenali ramai, sistem usrah kita juga pasti akan terus kuat. Karena, sistem usrah kita terus-menerus menghasilkan manusia yang tidak punyai kepentingan diri. Lantas, darah dan harta dipertaruhkan. Ya, perasaan dan kesanggupan ini tidak dapat difahami mereka-mereka yang hanya duduk berehat di rumah atau yang hanya mengejar kekayaan dalam bisnes atau yang hanya punyai cita-cita seputar individualistik. Sedangkan, ar-rahatu lir-rijal ghaflah. Rehat bagi kita adalah suatu bentuk kelalaian. Na’uzubillah.

Hari ini, kita bukan mahu menyambut ulang tahun ketiga perkahwinan Dato’ Siti Nurhaliza. Tapi hari ini, sempena hari al-Quds, kita mahu lebih yakin bahawa esok Islam pasti menang, melebihi yakinnya kita untuk punyai kesempatan bernafas pada detik seterusnya.

[sumber: elbaeraqy.co.cc]

Allahumma harrir qudsana wa ja’alna min junudit tahrirYa Allah Ya Tuhan kami, bebaskanlah al-Quds kami, dan jadikan kami daripada pejuang pembebasan itu.
ad

Demi Masa

Kemenangan

Suara Palestina

Borak Palestina

Bebaskan Palestin!

FREE PALESTINE

Pasak Perjuangan

Boikot Zionisme!